You are here:

Langgar Merdeka

Masjid dibangun pada masa perang Kemerdekaan oleh Haji Mashadi. Dalam masa perjuangan masjid ini mempunyai peranan yang cukup penting, yakni tempat berkumpulnya para pejuang untuk merencanakan penyergapan terhadap patrol i  Belanda di daerah Surakarta. Sampai sekarang bangunan tersebut masih digunakan untuk ibadah. Pada tahun 1983 bagian serambi telah diperbaiki oleh masyarakat.  Menurut sejarah, bangunan Langgar Merdeka  merupakan wakaf dari Almarhun Bapak H. Imam Mashadi dan Almarhumah Ibu Hj. Aminah Imam Mashadi, Pembangunan Langgar Merdeka dimulai tahun 1942 dan selesai tanggal  26 Februari 1946 yang kemudian diresmikan oleh Mentri Sosial pertama  yaitu Almarhum Bapak Mulyadi Joyo Martono.

Langgar Merdeka berdiri setelah berdirinya Masjid “ Al Makmur” di Setono pada tahun 1944. Bangunan Langgar “ Merdeka ” sebelumnya adalah bang unan rumah milik orang Cina yang dipakai untuk berjualan Candu yang kemudian dibeli oleh Almarhun Bapak H. Imam Mashadi.  Nama Langgar Merdeka diambil dalam rangka memperingati kemerdekaan RI, namun pada saat Agresi Militer Belanda ke II tahun 1949 diganti namanya dengan Langgar “Al Ikhlas” kar ena dilarang menggunakan kata “Merdeka”   oleh pemerintah Belanda yang menduduki Surakarta. Setelah Agresi Militer Belanda ke II berakhir, kembali memakai nama Langgar Merdeka di tahun 1950. Pada saat Agresi Militer Belanda ke II, Langgar Merdeka juga pernah dijatuhi 2 buah bom oleh militer Belanda, namun atas berkat pertolongan Allah SWT bom tidak mengenai Langgar Merdeka dan juga tidak meledak. 

Bangunan Langgar Merdeka oleh almarhum bapak H. Imam Mashadi dibuat 2 lantai dengan maksud lantai atas difungsikan sebagai tempat ibadah / sholat sedangkan lantai bawah difungsikan untuk penunggu / pengelola Langgar Merdeka dengan dibuat model toko  –  toko agar dapat dipergunakan oleh pengelola untuk usaha yang hasilnya untuk menghidupi kebutuhan langgar dan dan kehidupan pengelolanya.

Adapun pengelola Langgar Merdeka dimulai oleh almarhum Bapak H. Muntasir. Kemudian pengelola dilanjutkan oleh almarhum bapak KH. Ghufron bersama keluarganya yang beliu merupakan saudara Almarhum bapak KH. Jufri dari Salatiga yang merupakan pengungsi dari Salatiga pada saat Agresi Militer Belanda ke II. Selanjutnya sekitar tahun 1949 an pengelolaan dilanjutkan oleh Almarhum KH. Ahmad Musanni beserta keluarganya yang berasal dari Kidul Pasar Laweyan Surakarta yang setelah wafat di tahun 1990 pengelolaan Langgar  Merdeka dilanjutkan oleh putra menantu almarhum KH. Ahmad Musanni yaitu bapak H. M. Sholeh sampai sekarang.

Kategori: 

Perencanaan Ruang

Bidang Perencanaan Ruang DTRK Kota Surakarta

Pemanfaatan Ruang

Bidang Pemanfaatan Ruang - DTRK Kota Surakarta

Pengendalian Ruang

Bidang Pengendalian Ruang DTRK Kota Surakarta

Pelestarian Kawasan

Bidang Pelestarian Kawasan dan Bangunan Cagar Budaya DTRK Kota Surakarta